Jangan Sampai To Kill a Mockingbird

image

Setelah nonton film Schindler’s List yang merupakan film hitam putih pertama saya, entah mengapa saya jadi keranjingan nonton film sejenis. Bahkan saat ini saya lebih menikmati menonton film hitam putih ketimbang film berwarna. Kali ini saya akan bercerita mengenai film To Kill a Mockingbird (1962).

Pertama kali ngerti film ini saat saya mencari referensi film di situs AFI (America Film Institute). Saya penasaran dengan embel-embel film terbaik kategori courtroom drama di AFI’s 10 of 10 mengungguli film 12 Angry Men, dimana menurut saya film terbaik yang pernah diciptakan atau dengan kata lain menempati posisi satu film sepanjang masa versi saya. Apalagi kalau melihat judulnya To Kill a Mockingbird, saya langsung membayangkan film teka-teki pembunuhan yang menuntut daya pikir lebih dengan suasana noir dan kelam. Tapi setelah menyimak, film baru berjalan sekitar seperempat dari durasi, saya langsung terhenyak. Oh meennn ternyata yang dimaksud Mockingbird itu burung, beneran burung bukan istilah atau kiasan. Seketika di kepala saya terlintas manuk emprit. Tapi disitulah uniknya, Mockingbird yang saya kira ungkapan atau kiasan untuk sesuatu yang seram, adalah kiasan sendiri di dalam film tersebut. Bingung ya? Makanya tonton filmnya! :sisiran:

image

Sinopsis :
Film yang bersetting tahun 1932 dan bertempat di daerah Monroeville, Alabama ini mengisahkan duda bernama Atticus Finch yang berprofesi sebagai pengacara sekaligus ayah dari dua anak yang bernama Jem Finch dan Scout Finch. Suatu malam Atticus diminta oleh pengadilan untuk menjadi pengacara Tom Robinson, seorang buruh kulit hitam yang dituduh memperkosa dan menganiaya seorang gadis kulit putih. Celakanya gadis tersebut mempunyai ayah yang sangat rasis, dan disitulah konflik dimulai.

Review :
Untuk sebuah courtroom drama, 12 Angry Men lebih powerfull dibandingkan To kill a Mockingbird. Kurangnya cerita atau lack of story pada courtroomnya membuat saya menempatkan film ini di bawah 12 Angry Men. Karakter Atticus Finch juga kurang kuat dari yang seharusnya, pun demikian dengan karakter Tom Robinson yang dimunculkan seperti pemanis dalam film ini. Dari awal saya membayangkan persidangan berjalan alot sebagaimana film ini dielu-elukan sebagai courtroom terbaik. Tapi sayang, didalam persidangan kita hanya difokuskan langsung ke perbuatan-perbuatan mulia seorang Atticus yang dengan ketulusan hatinya membela terdakwa berkulit hitam, dan rasanya persidangan berlangsung dengan cepat.

Terlepas dari kurangnya cerita di courtroom, film ini ternyata jauh lebih kaya cerita di luar courtroom atau persidangan. Karakter Atticus lebih kompleks. Terlihat bagaimana seorang Atticus Finch digambarkan sebagai sosok ayah yang kaku, bertutur kata halus, dan tidak mengekang kebebasan anak.  Saya bisa lihat bagaimana kasih sayang dan cintanya saat dia berbincang dengan anak-anaknya, bagaimana dia memberi pengertian ketika anak-anaknya mendapat masalah, atau kepribadiannya yang selalu ramah dan menghargai orang lain. Saya sendiri sangat mengidolakan karakter dari Atticus, bahkan sampai sekarang masih berusaha supaya bisa jadi seperti Atticus. Tidak berlebihan jika karakter Atticus Finch menempati posisi nomer satu dalam AFI’s 100 Greatest Heroes & Villains.

image

Film ini juga menawarkan sudut pandang lain antara orang dewasa dan anak-anak dalam menyikapi sebuah bahaya. Seperti Jem, Scout dan Dill ketika mengikuti Atticus yang sedang berjaga di depan sel Tom, dan celakanya Atticus didatangi kerumunan massa yang memaksa Atticus tidak membela orang kulit hitam. Kondisi tersebut sangat berbahaya dan tidak ideal dilihat dari sudut pandang orang dewasa. Tapi bagi anak-anak Atticus hal tersebut ditanggapi dengan polos, lugu dan apa adanya.

Anak-anak lebih takut dengan hal-hal yang belum pernah mereka lihat daripada bahaya yang nyata-nyata ada di depan mereka. Seperti Jem dan Scout selalu ketakutan dengan sosok tetangga misterus mereka yang bernama Boo Bardley. Kisah Boo yang mengalir dari mulut ke mulut pun selalu membuat takut mereka terlebih saat melihat bayangan Boo di rumahnya.

Dari sisi history film ini menawarkan isu yang tidak kalah sensitifnya. Pada saat film ini dirilis, diskriminasi terhadap orang kulit hitam pun masih berlangsung. Dimana sebagian kulit putih berhak menghukum kaum kulit hitam yang menurut mereka kaum kelas bawah. Itu mengapa, James Stewart aktor papan atas pada saat itu sekaligus aktor idola saya enggan memerankan Atticus karena naskahnya dinilai terlalu liberal dan takut filmnya sendiri akan jadi kontroversi.

image

Dari segi akting, Gregory Peck yang saat itu sedang berada di puncak karir berhasil membawakan karakter Atticus Finch dengan sangat baik dan tanpa celah. Pantas jika Gregory Peck diganjar dengan penghargaan best actor di perhelatan Oscar. Meski sebenarnya Gregory Peck bukanlah opsi pertama dari produser. Akting cemerlang Gregory Peck semakin lengkap dengan hadirnya Maria Badham (Scout) yang masuk nominasi sebagai best supporting actress, dan Phillip Alford yang tampil begitu mengagumkan dan berhasil mengimbangi kecemerlangan akting dari Gregory Peck. Tidak nampak kecanggungan dan keanehan dari setiap gerak gerik mereka. Tanpa mengesampingkan jajaran pemeran dalam film ini, kolaborasi ketiga pemeran utama berhasil membentuk suatu harmoni yang pas yang akhirnya membuat film ini begitu kuat dari keseluruhan cerita. Tapi jujur sebenarnya saya lebih suka karakter Dill yang songong dan sok dibandingkan Scout dan Jem.

Seperti yang saya bilang diatas, To Kill a Mockingbird merupakan sebuah kiasan. Di salah satu adegan film ini dijelaskan ( pada saat Atticus, Jem dan Scout mengobrol di meja makan ) karakteristik burung Mockingbird digambarkan sebagai burung yang tidak pernah bersarang di atap rumah dan tidak pernah mengambil hasil ladang para petani. Intinya Mockingbird tidak pernah merugikan orang, malahan Mockingbird mengeluarkan suara merdu yang bisa menghibur orang.

To Kill a Mockingbird bisa diartikan membunuh makhluk yang tidak bersalah atau berdosa. Itu sama dengan para korban diskriminasi seperti yang tergambar dalam film ini. Mereka tidak memilih untuk dilahirkan sebagai kulit hitam dan mereka tidak merugikan orang, bahkan terkadang juga membantu orang kulit putih. Melakukan tindakan diskriminasi sama saja dengan membunuh mereka. Tidak secara fisik, tapi secara psikis. Tetapi bukankah membunuh secara psikis lebih menyakitkan daripada membunuh secara fisik? Melakukan tindakan diskriminasi itu sama saja you’re killing mockingbird!!!

Film yang diadaptasi dari novel karya Harper Lee yang juga berjudul To Kill a Mockingbird ini berhasil memboyong 3 piala oscar dari 8 kategori yang dinominasikan. Biasanya saya jarang memperhatikan quote dari sebuah film, tapi quote dari Atticus ini begitu membekas bagi saya.
“You never really understand a person until you consider things from his point of view – until you climb into his skin and walk around in it.”
Membekas karena quote ini diucapkan Atticus kepada anak perempuannya yang lagi ngambek tidak mau sekolah lagi. Mungkin karena saat ini saya juga mempunyai anak perempuan seusia Scout. Itu sebabnya keseluruhan dari film dan quote tersebut begitu membekas bagi saya pribadi.

Rotten Tomatoes
Critic score : 94%
User score : 93%
IMDB rating 8.4/10
IMDB top 250 : 81
AFI top 100 : 25
I aM DeBy : 4.5/5

4 thoughts on “Jangan Sampai To Kill a Mockingbird

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s