Macet dan Mudik yang Semakin Tidak Masuk Akal

Dari tahun ke tahun tradisi mudik tak luput dari yang namanya macet. Bahkan semakin meningkat kadar kemacetannya. Stress, capek sampai memakan waktu yang lama adalah imbas dari kemacetan tersebut. Penulis tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi fisik maupun psikologis pengendara yang terjebak dalam kemacetan tersebut. Menurut berita dari detik, di kawasan Subang Jawa Barat terjadi kemacetan yang luar biasa. Jarak 2 KM ditempuh selama 9 jam. Hampir semua pengendara mengeluhkan kemacetan yang terjadi selama mudik.

Sungguh fenomena kemacetan yang tak biasa mudik yang terjadi kali ini. Bagi penulis, kemacetan tak luput dari “ulah” pengendara tersebut. Akar dari kemacetan tersebut adalah membludaknya volume kendaraan di jalan raya. Karena kemacetan berbanding lurus dengan angka penjualan kendaraan bermotor. Logika sederhana saja, misalkan Panjang jalan 1 km dan lebar 5 meter diisi 100 kendaraan, akan sangat berbeda kalau diisi 500 kendaraan.

Kemacetan yang terjadi dewasa ini, tak ubahnya seperti bencana banjir. Keduanya sama-sama disebabkan oleh ulah manusia. Aliran sungai yang tersendat oleh banyaknya sampah, berpotensi besar akan terjadinya banjir. Begitu pula jalanan yang berpotensi besar macet akibat banyaknya kendaraan. Bak gayung bersambut, Kerakusan produsen otomotif disambut dengan sukacita oleh sifat konsumtif mayoritas konsumen.

Masalah tidak berhenti sampai disitu. Transportasi publik yang diharapkan mengurangi kemacetan juga diabaikan. Sejauh ini jarang kita menemukan transportasi publik yang aman, nyaman dan terjangkau. Mungkin kalau kita sekarang mengeluhkan pembangunan mall, pabrik sampai perumahan yang tega memakan lahan pertanian. Penjualan kendaraan pribadi pun juga seakan tega memakan lahan transportasi publik. Keserakahan produsen otomotif sama serakahnya dengan developer mall sampai perumahan yang dengan tega menggerus lahan-lahan pertanian.

Kalau melihat kondisi semacam itu, tak sepantasnya kita mengeluh kala terjebak kemacetan. Karena secara tidak sadar kita juga turut andil menyebabkan kemacetan. Akibatnya, kaum-kaum marjinal yang tidak termakan bujuk rayu produsen otomotif dan para pengguna setia transportasi publik, terkena imbas dari kaum mayoritas yang hidup dalam konsumerisme otomotif.

Faktor-faktor diatas menjadi suatu mata rantai penyebab kemacetan. Dan hal itu bukan tanpa solusi. Andai saja salah satu dari mata rantai tersebut kita putus, kemacetan bisa dikurangi. Mungkin dengan mengurangi sifat konsumtif atau dari pemerintah yang bisa tegas membatasi pertumbuhan kendaraan dan menyediakan transportasi yang nyaman aman dan terjangkau.

Sekedar saran buat pemudik yang terjebak kemacetan, dinikmati saja ketika terjebak dalam kemacetan. Alangkah baiknya sambil merenung “apakah saya termasuk salah satu penyebab kemacetan ini.” Meminjam istilah dari blogger kawak yang juga senior saya Alonrider, “mudik lebaran zaman kini semakin tidak masuk akal.”

Semoga tahun depan, tradisi mudik menjadi lebih teratur. Kemacetan dan angka kecelakaan berkurang drastis. Terpenting pemerintah bisa mengambil pelajaran dan serius mengatasi semrawutnya peristiwa mudik tahun ini.

Posted with WordPress for BlackBerry.

14 thoughts on “Macet dan Mudik yang Semakin Tidak Masuk Akal

  1. cerita temen pulang ke Cirebon naik motor dari Bekasi pada hari Kamis nempuh perjalan 13 Jam, sedangkan pulangnya hari Selasa naik motor tempuh 4 Jam….. …. mudik identik dengan macet😦 Smoga adanya Manajemen Transportasi yang bisa menganggulangi arus mudik ke depannya!!!!

  2. Ada baiknya juga sih mudik yang di jakarta ngerasa LUAR BIASA dan anti kemcetan! ya gubernur ga berguna juga yang bisa mengurangi kemacetan ya lebara #joke

  3. saya dari cepu-jateng ke kediri “cuma” butuh waktu 9 jam dari yang biasanya hanya 4 jam perjalanan.
    rabu malam tanggal 22 kemarin bener2 mantep dah macetnya mulai dari caruban smp nganjuk.
    waktu bermacet ria kmaren saya juga mikir kayak sampean ini mas..saya balik sendirian tapi bawa mubil..otomatis ikut menyumbang kemacetan..
    hmm..semoga taun depan jumlah kendaraan pribadi di jalan raya tidak semakin membludak dan angkutan umum semakin bagus dalam hal layanan dan jumlahnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s