Jakarta Oh Jakarta

Macet dan banjir itu yang tertanam di penulis tentang Jakarta. Selain kemegahan dan kemewahan yang menjadi daya tarik, Jakarta juga tak luput dari persoalan pelik dan kompleks. Sebagai warga luar Jakarta, sederet masalah dan persoalan yang terjadi di Jakarta masih menjadikan momok tersendiri bagi penulis ketika akan berwisata atau mengunjungi kerabat di Jakarta. Ketakutan penulis bukan tanpa sebab. Seperti diberitakan tempo tentang 9 dari 18 kejahatan terjadi di angkot membuat siapapun berpikir ulang untuk menggunakan angkutan umum. Hal tersebut jelas menjadi suatu masalah besar bagi yang berharap besar pada angkutan umum. Terlebih kasus pemerkosaan perempuan di angkot yang sedang marak, jelas angkot kini tak ubahnya neraka bagi perempuan. Bukan hanya warga Jakarta saja yang cemas, melainkan wisatawan yang berasal dari luar Jakarta juga merasa resah.

Mungkin kita sepakat, maju tidaknya sebuah negara tergantung pemimpinnya. Dan saat ini Jakarta punya hajatan pemilihan gubernur dan wakil gubernur. Semua mata tertuju pada hajatan ini, khusunya warga Jakarta yang berharap cemas siapa yang akan menjadi pemimpin Jakarta. Banyak Pekerjaan Rumah menanti calon gubernur yang nantinya terpilih. PR yang menanti Gubernur menurut penulis adalah :

• Banjir

Semua penduduk Indonesia setuju bahwa Banjir merupakan “tamu” setia dikala musim penghujan turun. Sampai saat ini banjir belum bisa diredam. Sederet usaha telah diupayakan, mulai dari membersihkan drainase sampai pembangunan saluran Banjir Kanal Timur dan Banjir Kanal Selatan. Sederet gagasan mengatasi penyebab banjir dan permasalahannya pun juga banyak ditulis. Seperti tulisan yang penulis baca di infodokterku.

• Macet

Selain banjir, macet juga menjadi penyakit kronis di Jakarta meski belum sampai pada titik deadlock. Kegagalan pemerintah menyediakan transportasi publik yang aman, nyaman dan terjangkau membuat masyarakat memilih untuk memakai kendaraan pribadi. Solusi dengan menghadirkan bus transjakarta sampai saat ini juga tidak optimal. Pembangunan monorail yang sempat dikerjakan berhenti ditengah jalan. Mudahnya kredit kendaraan roda dua juga berkontribusi besar menyebabkan kemacetan.

• Transportasi Publik

Sebenarnya transportasi publik bisa menjadi solusi menghindarkan kemacetan. Kegagalan pemerintah dalam menyediakan transportasi publik yang aman, nyaman dan terjangkau membuat masyarakat enggan menggunakan transportasi publik. Bahkan transportasi publik kini menjadi tempat baru bagi penjahat untuk melakukan tindakan kriminal. Diantaranya perampokan, pemerasan dan pemerkosaan.

• Polusi Udara

Semakin banyak kendaraan semakin tercemar pula udara di Jakarta. Tentunya itu sangat berbahya bagi kesehatan.

• Premanisme

Jakarta memang menjadi pusat segala hal tak terkecuali preman. Mulai dari preman kelas teri sampai kelas kakap. Seperti diberitakan tempo sepekan, satpol pp ringkus 402 preman, operasi penertiban preman besar besaran pun pernah dilakukan pada 2010. Tapi sampai kini masalah preman pun seakan tak ada habisnya.

• Ormas anarki

Kebrutalan ormas sampai kini juga belum bisa terselesaikan. Banyak ormas yang menjelma bagaikan penegak hukum. Yang paling hangat adalah sweeping salah satu ormas garis keras yang semakin meresahkan.

• Fasilitas Umum

Fasilitas umum seperti trotoar, jembatan penyebrangan sampai taman kota mulai banyak kehilangan fungsinya. Seperti trotoar yang beralih fungsi jadi tempat berjualan pedagang kaki lima, tempat parkir. Bahkan trotoar pun menjadi “jalan alternatif” sepeda motor menembus kemacetan.

Beberapa point diatas penulis ketahui sebagai warga luar Jakarta. Dan memang point-point tersebut sudah sering diberitakan di berbagai media masa. Tentunya masih banyak faktor yang lebih mendetail diketahui oleh warga Jakarta sendiri. Karena mereka merasakan dan melihat secara langsung setiap denyut kehidupan di Jakarta. Sebenarnya tantangan bagi para calon gubernur dan calon wakil gubernur yang saat ini bertarung bukan pada pemenangan memperebutkan tampuk kekuasaan, tetapi menyelesaikan berbagai macam persoalan setelah terpilih nantinya.

PolitikWave Jakarta

Gema politik atau istilah kerennya PolitikWave di Jakarta begitu menggema di seantero negeri ini. Maklumlah, Jakarta yang notabene ibu kota propinsi negeri ini seperti mini-nya Indonesia. Setiap Jakarta punya hajat, seluruh media ramai-ramai memberitakan. Mulai dari media cetak, media TV sampai social network tak luput ikut ambil bagian. Sayang seribu sayang, nada politik di Indonesia khususnya Jakarta tidak terdengar syahdu bahkan terdengar sumbang dan fals. Menurut Aristoteles, praktik politik harus mengedepankan kepentingan publik guna mencapai kehidupan yang layak. Namun apa lacur, banyak elit politik mengkhianati esesnsi dari politik itu sendiri. Politik kini dijalankan hanya untuk
membangun sebuah akses pribadi atau kelompok dan menelantarkan kepentingan yang lebih besar, yakni kepentingan bersama. Sesuatu yang haram di ranah politik kini menjadi halal akibat ulah tercela elit politik. Sebagai contoh dalam pemilihan gubernur dan wakil gubernur Jakarta yang memasuki putaran ke dua, diwarnai oleh aksi kampanye terselubung dari salah seorang publik figur.

Masih menurut tempo.co Panwaslu sudah mengantongi bukti video ceramah Rhoma dan sudah memanggil Rhoma. Adalah permasalahan beda Agama yang dianut salah satu wakil gubernur yang dipermasalahkan. Bahkan ketua PPP Surya Dharma Ali mendukung Kampanye Rhoma Irama . “Dalam deklarasi
dukungan PPP kepada Foke, Suryadharma tidak segan-segan mengakui bahwa dukungan PPP diberikan karena faktor akidah. Jakarta kota yang religius, sehingga perlu dipimpin Gubernur yang religius.” Hal tersebut jelas menodai ideologi bangsa ini yang dibangun diatas ideologi Pancasila. Perumusan Pancasila itu sendiri difungsikan memayungi seluruh elemen masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke tak terkecuali Jakarta. Karena secara de facto realitas kebangsaan masyarakat Indonesia adalah sangat majemuk, terdiri dari berbagai agama, suku, budaya dan adat istiadat.

Sebagai akibat dari buruknya praktik politik yang terjadi saat ini, setiap kali PolitikWave mencuat dimedia massa, rakyat geram dan marah melihat dagelan politik di negeri ini khususnya Jakarta. Padahal yang diharapkan rakyat adalah hidup sejahtera, keadilan dapat diterapkan, makan yang layak, mendapatkan tempat tinggal yang nyaman.

Pemimpin Memegang Peranan Penting

Segala carut marut persoalan diatas, kalau kita tarik benang merah bertumpu pada kepiawaian pemimpin. Karena di Jakarta juga banyak warga-warga yang jenius dibidangnya. Tetapi akan sia-sia ide-ide brilian yang dilontarkan tanpa dukungan penuh dari pemerintah khususnya pemimpin. Misalnya saja pembatasan jumlah kendaraan dengan pajak yang tinggi. Karena selama ini pemimpin kita selalu tunduk pada pihak tertentu. Banyak kebijakan yang tidak pro rakyat.

Kuncinya memang ada pada pemimpin. Pemimpin yang adil, tegas, bersih, jauh dari korupsi dan bisa mengayomi rakyatnya, pasti akan mendapat simpati. Dengan begitu rakyat akan secara sadar dan sukarela mengikuti aturan yang ada. Karena seyogyanya pemimpin yang arif akan membuat aturan dan kebijakan yang berpihak pada rakyat. Jika rakyat sudah merasa pemimpin berpihak kepada mereka, tidak sulit untuk rakyat mengikuti apa yang jadi aturan dan kebijakan pemerintah. Tentunya keadaan tersebut akan bertolak belakang jika pemimpin “seenaknya sendiri”. Rakyat pun akan bertindak seenaknya sendiri.

Semoga kedepannya Jakarta mempunyai pemimpin yang tidak terjebak pada kontrak-kontrak tidak tertulis dengan pihak-pihak tertentu. Sehingga akan membenahi Jakarta dengan hati yang ikhlas guna menciptakan Jakarta yang aman, nyaman, tentram dan damai. Dengan kondisi seperti tersebut, warga jakarta, wisatawan akan merasa bangga dan tenang hidup di Jakarta. Bukan rasa khawatir, cemas dan was-was yang dirasakan seperti saat ini.

22 thoughts on “Jakarta Oh Jakarta

  1. politik mas..isine mung kepentingan..pemimpin slnjtnya smg bsa membw perubahan n tidak larut dalam hegemoni politik..
    di daerah2 ya sama aja..cm skalanya tdk sbesar jakarta..
    banyak penyelenggara negara yg korup..minimal korup jam kerja

  2. saya sedikit beruntung,,,,tempat kerja hanya berjarak 1 km dari kos,,,berangkat kerja jalan kaki,,bermacet ria cma sabtu ma minggu kalo ke bekasi tempat mertua,,,,

  3. hadeeeh ternyata banyak juga yaah masalah di Jakarta -_-
    itu PR banget tuh buat gubernur baru kita,, bpk Jokowi.
    mudah2an aja beliau bisa mengatasi masalah2 yang ada di Jakarta dengan cepat pastinya😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s