Selalu Anak yang Jadi Korban

Sebelumnya penulis turut berduka cita atas tragedi berdarah sampang. Negeri yang dulunya terkenal seantero dunia akan keramah tamahannya kini berubah menjadi negeri barbar yang gemar mendahulukan kontak fisik daripada kontak batin. Seperti kejadian terbaru di sampang, penganut syiah menjadi bulan bulanan warga setempat karena dituduh sebagai aliran sesat. Selain menewaskan 2 orang, kampung syiah menjadi sasaran amuk massa dengan penyerbuan dan pembakaran. Penulis yang menganut paham plularisme sangat miris melihat aksi saling serang atas nama keyakinan. Tapi yang penulis soroti disini adalah nasib anak-anak tak berdosa ditengah keadaan yang mencekam.

Ketika melihat tayangan berita di salah satu stasiun TV swasta, ternyata banyak anak kecil yang terjebak di dalam situasi yang mencekam. Dimana itu bisa mempengaruhi kondisi psikologis dari sang anak tersebut. Masih dalam tayangan berita tersebut, menurut aktivis anak kak Seto ” kejadian tersebut bisa menjadi dendam bagi sang anak. Sesuatu yang terekam di alam bawah sadar suatu saat akan timbul dan menjadi bibit masalah baru.” Selain itu, kini anak-anak juga terganggu kegiatan belajar mengajarnya. Disaat teman-teman mereka bebas bergembira bermain dan belajar, anak-anak syiah menghadapi kejenuhan di tempat penampungan. Kebebasan mereka seperti terpasung akibat kejadian tersebut. Menurut kompas, Anak-anak tersebut juga memiliki
kecemasan terhadap kondisi yang
dialaminya saat ini. Beberapa
kecemasan mereka adalah takut terjadi gempa, takut bertengkar, takut lagi ada peperangan, takut diserang dan puluhan kecemasan lainnya. Sedihnya lagi, sampai saat ini belum banyak relawan yang
memperhatikan nasib anak-anak
pengungsi.

Kini Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Komite Anak Sampang, tengah berupaya menyembuhkan kondisi psikis anak-anak tersebut. Dengan mendirikan trauma center dan mengajak beraktivitas pasif, seperti mendengarkan dongeng, memberikan tontonan perjuangan dan sholawat nabi untuk memperkuat mental dan spiritualitas anak.

Tidak dipungkiri lagi, dalam banyak kejadian, selalu anak yang jadi korban. Mereka dipaksa menanggung akibat perbuatan orang dewasa yang pastinya mereka sendiri tidak mengerti akar permasalahannya. Banyak sekali contohnya, karena di negeri ini semakin jamak kekerasan antar kelompok, suku, agama dan ras. Pastinya banyak anak-anak tak berdosa berada ditengah tengah perang tersebut.

Dimana rasa tepo seliro bangsa kita, dimana rasa saling menghargai bangsa kita, dimana keramah tamahan bangsa kita. Apakah Bhineka Tunggal Ika hanya menjadi jargon semata tanpa adanya makna? Apakah kaum minoritas selalu tertindas? Apakah lantas karena perbedaan kita bebas berbuat seperti hewan. Masyarakat kita memang semakin bodoh, semakin gila dan semakin beringas.

“Kadang kumencoba tegar menghadapi, Bodohnya dunia masyarakat kita, dan semuanya gila.”

Mungkin sepenggal lirik dari band Superman Is Dead (SID) diatas cocok menggambarkan kejiwaan masyarakat kita saat ini. Kini, hanya tegar dan sabar yang patut kita lakukan ditengah kegilaan masyarakat kita. Karena kalau tidak, jalan satu-satunya cuman bertengkar.

Posted with WordPress for BlackBerry.

About these ads

26 thoughts on “Selalu Anak yang Jadi Korban

  1. preman jaman dulu sudah dapt terlihat dari cara pakaiannya, preman masa kini sudah dapt mengkamuflase menjelma dan tak tampak lagi bagaikan seorang preman, oh atau mungkin preman sdah tidak ada namun jiwa preman sudah menular kemasyarakat ? arogan, sok benar, adu fisik kelompok vs kelompok atau bahkan vs individu ? ,. ah capek mikirin orang-orang kaya gitu,

  2. ini bukan konflik syiah sunni bro!!! ini adalah masalah keluarga… yg kebetulan 2 orang yg bermasalah adalah kakak adik yang punya pesantren yang satu syiah dan lainnya sunni. sehingga ketika mereka berkonflik maka santri mereka pun ikut berkonflik juga… jadi ini sekali lagi bukan konflik syiah sunni!!! karena syiah juga sudah lama hidup di Indonesia dan hampir tidak pernah ada konflik… makanya sebelum menulis cari dulu referensi yg cukup baru nulis… jadi gak memperkeruh suasana dengan tulisan yg ngawur!!!

    • Hehehe, lucu sampean bro. Coba deh baca lagi sebelum sampean berkomentar ngawur. Saya lebih menyoroti anak2 yang selalu jadi korban di setiap kekerasan disamping menyoroti semakin beringasnya mayoritas masyarakat kita.

      • iya tahu… sampean nyoroti tentang anak korban pengungsi!!! tapi kalimat sampean yang ini “Seperti kejadian terbaru di sampang, penganut syiah menjadi bulan bulanan warga setempat karena dituduh sebagai aliran sesat.” ini kan menunjukkan kalau konflik ini karena mengganggap syiah itu sesat oleh sebagian masyarakat yg lain. makanya kalau gak mau dibilang ngawur jangan nulis tentang syiah dong… tulis aja kejadian konflik berdarah di madura kan beres!!! revisi dong itu tulisan!!! dangkal!!!

      • Faktanya yang jadi bulan bulanan warga adalah kaum syiah. Dan faktanya syiah dianggap sesat oleh MUI jatim.
        Saya males berdebat soal syiah, sunni, maupun keyakinan yang lain. Karena bagi saya, semua memiliki hak yg sama untuk memilih keyakinannya.

      • dan juga kalimat ini “Penulis yang menganut paham plularisme sangat miris melihat aksi saling serang atas nama keyakinan.” ini kan menunjukkan kalau sampean yakin bahwa ini konflik karena perbedaan keyakinan…maksud tulisan baik. tapi kalau dibumbui syiah sunni jadi keliatan ngawurnya!!!

      • kenapa saya kritisi tulisan anda… karena syiah dan sunni itu saling mengkafirkan… ini masalah sensitif… kalau media(mainstream,forum,blog dsb) menganggap konflik maduran adalah konflik syiah sunni dampaknya jadi panjang bro!!! kita gak mau kan konflik lagi di bagian Indonesia yg lain antara syiah sunni. apa kepingin lihat Indonesia hancur? kalau saya tidak mau!!!

      • Blog ini bukan media mainstream yang selalu update informasi. Ketika saya bikin ini berita, krnologis beritanya belum keluar. Awal saya baca berita di beberapa media, semua menyebutkan konflik syiah. Dan karena saya gak terlalu mengurusi konflik syiah sunny, saya memandang dari sisi anak yg jadi korban. Lagian saya gak menyebut sunni sama sekali. Jadi kalau saat ini kondisinya ternyata konflik keluarga, ya saya maturnuwun untuk diberitahu. Tapi kalau untuk revisi artikel, maaf saya tidak bisa. Karena nantinya setiap ada update berita dan lain lagi ceritanya kan saya jadi revisi terus artikel mengikuti update berita. Yg jelas ketika saya nulis artikel, saya memaparkan fakta bahwa korban penyerangan adalah kelompok syiah, dan syiah dianggap sesat oleh MUI jatim, dan faktanya anak2 yg jadi korban.

      • “Faktanya yang jadi bulan bulanan warga adalah kaum syiah. Dan faktanya syiah dianggap sesat oleh MUI jatim.
        Saya males berdebat soal syiah, sunni, maupun keyakinan yang lain. Karena bagi saya, semua memiliki hak yg sama untuk memilih keyakinannya.”
        he…he…he… saya juga gak mau berdebat soal keyakinan,karena itu hak masing2 orang. maka dari itu saya mengkritisi tulisan anda yg mengaitkan konflik keluarga dgn konflik keyakinan!!!
        kalau anda bilang yg jadi korban adalah kaum syiah itu hanya suatu KEBETULAN. contohnya gini kalau TNI memerangi RMS apakah itu berarti TNI memerangi kristen (karena 90% RMS penganut kristen) enggak kan!!! TNI memereangi organisasinya bukan agamanya!!! jadi tolong masalah itu dilihat kasus per kasus jangan dicampur aduk nanti malah bikin ruwet :D
        kalau MUI bilang syiah itu sesat… kapasitas MUI itu apa? lembaga negara? bukan kan!!! jadi ya gak usah didengar omongan MUI. gitu aja kok repot!!!
        intinya jangan bikin tulisan tanpa referensi dan analisa yang matang!!!

      • Kan sudah saya bilang ketika tulisan dibuat kronologi, berita yang berkembang masih seputar konflik syiah. sebenarnya saya juga gak sependapat sama MUI jatim yg menyebutkan syiah sesat. Tapi faktanya MUI menganggap sesat.
        Setiap tulisan, saya mencoba melampirkan referensi, memaparkan fakta dan menganalisanya. Terima kasih kritikannya. Bisa jadi pembelajran bagi saya untuk bisa menulis yang lebih baik lagi ;).
        Intinya tulisan ini hanya menyoroti anak2 yang selalu jadi korban dari banyak kasus kerusuhan.

        Sent from my BlackBerry®
        powered by Sinyal Kuat INDOSAT

      • maaf bro… kalau ada kata yg menyinggung… saya cuman gak kepingin ada konflik lagi di INDONESIA

  3. kamu tahu tidak syiah itu apa? sunni itu apa? kantong syiah di Indonesia bukan cuma di madura tapi ada di beberapa tempat lain di Indonesia. dan selama ini hampir tidak pernah ada konflik karena syiah minoritas di sini. lain dengan pakistan atau irak yang jumlah pemeluk syiah & sunni hampir berimbang. jadi sekali lagi di madura itu bukan konflik syiah sunni!!! tapi konflik keluarga!!!

    • maaf urun rembug,,,,kembali ke topik awalnya,yg di soroti adalah anak-anak yg selalu menjadi korban akibat kekerasan yg terjadi di masyarakat kita yg lebih mengedepankan fisik daripada mencari solusi dengan saling bertukar pendapat,,,mungkin awalnya emang dipicu oleh kakak adik yg berbeda pesantren,,tapi klo itu bisa di atasi oleh keluarga tersebut pasti ga bakalan besar,,,yg terjadi adalah membawa kelompok dan itu yg menjadikan hal bukan masalah keluarga lagi tapi sdh meluas menjadi isu anarkisme kelompok.

  4. kasian anak2..
    masih kecil mereka harus bisa menjaga kepolosan mereka di situasi yang semakin kacau pada jaman sekarang..
    semoga kita dapat menjaga anak2 kita dengan baik.. :D

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s